Archive

Archive for December, 2008

~Maut Itu Bagaikan Gelas yang Berisi Minuman~

 

 

dedaunan

 

 

Ajaran agama Hanifiyah yang masih tersisa dalam diri Umayyah ibnu Abu Shalt membuatnya

 

dapat melihat hakikat kehidupan, dan hampir saja dia masuk Islam, lalu dia berseru kepada

 

lingkungan jahiliyyah yang ada di sekitar mengumandangkan bait-bait berikut:

 

 

 

 

 

 

 

“Janji itu telah dekat, sedang hati kebanyakan manusia tertuju kepada hiburan, dan cinta

 

kepada kehidupan dunia telah mengendalikannya.

 

 

 

Pupuslah harapan jiwa untuk kekal atau memperpanjang hidup yang sebentar manakala

 

maut mengejarnya dengan pasti.

 

 

Di hadapannya ada pengendali yang menuntun dia ke arah ajal, dan hanya ke batas ajallah

 

pengendali menuntun dengan perlahan tapi pasti.

 

 

 

 

Hati manusia merasa pasti, bahawa dirinya akan berakhir sebagaimana pandangan yang

 

diperlihatkan oleh Penciptanya, di waktu kelmarin.

 

 

 

 

Dan sesungguhnya apa yang telah dihimpunkannya dan apa yang dikaguminya dari

 

kehidupan ini adalah pahit lagi pasti akan ditinggalkannya.

 

 

 

 

Barangsiapa yang tidak mati kerana sakit, pasti mati kerana ketuaan, maut itu bagaikan

 

gelas yang berisi minuman dan setiap orang pasti mencicipinya.”


 

 

 

 

Boleh dikatakan, bahwa seruan yang dikumandangkannya di pasar ‘Ukazh ini adalah petanda yang

 

memberitakan akan datangnya kenabian yang baru. Ketika kenabian ini datang,

 

dihidupkannyalah tuntunan pengawasan dan pandangan yang memberikan pelajaran ini,

 

sehingga muncullah sejumlah sahabat yang bersikap zuhud terhadap harta yang mereka warisi di

 

sana. Kemudian mereka berbalik memperbaiki keadaan manusia yang penuh dengan khayalan,

 

dan membenahi dari apa yang telah dirosak oleh nafsu syahwatnya. Sehingga tiada lain harta

 

yang dimiliki oleh seseorang dari mereka (para sahabat) ketika saat kematiannya, selain dari kain

 

burdah yang pendek. Pemandangan ini membuat sahabat Rasulullah, ‘Abdul Rahman ibnu ‘Auf

 

ra. menangis dan menjauhi makanannya lalu berkata:

 

 

 

Mus’ab ibn Umair telah gugur, dan dia lebih baik dariku, dia dikafani dengan

 

 

 

kain burdahnya. Jika digunakan untuk menutup kepalanya, kedua kakinya

 

 

 

terlihat, dan jika digunakan untuk menutup kedua kakinya maka kepalanya

 

 

 

terlihat. Sedang dunia diluaskan bagi kami seperti keadaan sekarang ini, maka

 

 

 

kami merasa khuatir bila hal ini sebagai balasan dari kebaikan yang

 

 

 

disegerakan.

 

 

Muhammad Ahmad Ar-Rasyid,Ar-Raqaiq

Categories: gagasan Hikmah Tags: , , , , , , ,