~Maut Itu Bagaikan Gelas yang Berisi Minuman~

Ajaran agama Hanifiyah yang masih tersisa dalam diri Umayyah ibnu Abu Shalt membuatnya
dapat melihat hakikat kehidupan, dan hampir saja dia masuk Islam, lalu dia berseru kepada
lingkungan jahiliyyah yang ada di sekitar mengumandangkan bait-bait berikut:
“Janji itu telah dekat, sedang hati kebanyakan manusia tertuju kepada hiburan, dan cinta
kepada kehidupan dunia telah mengendalikannya.
Pupuslah harapan jiwa untuk kekal atau memperpanjang hidup yang sebentar manakala
maut mengejarnya dengan pasti.
Di hadapannya ada pengendali yang menuntun dia ke arah ajal, dan hanya ke batas ajallah
pengendali menuntun dengan perlahan tapi pasti.
Hati manusia merasa pasti, bahawa dirinya akan berakhir sebagaimana pandangan yang
diperlihatkan oleh Penciptanya, di waktu kelmarin.
Dan sesungguhnya apa yang telah dihimpunkannya dan apa yang dikaguminya dari
kehidupan ini adalah pahit lagi pasti akan ditinggalkannya.
Barangsiapa yang tidak mati kerana sakit, pasti mati kerana ketuaan, maut itu bagaikan
gelas yang berisi minuman dan setiap orang pasti mencicipinya.”
Boleh dikatakan, bahwa seruan yang dikumandangkannya di pasar ‘Ukazh ini adalah petanda yang
memberitakan akan datangnya kenabian yang baru. Ketika kenabian ini datang,
dihidupkannyalah tuntunan pengawasan dan pandangan yang memberikan pelajaran ini,
sehingga muncullah sejumlah sahabat yang bersikap zuhud terhadap harta yang mereka warisi di
sana. Kemudian mereka berbalik memperbaiki keadaan manusia yang penuh dengan khayalan,
dan membenahi dari apa yang telah dirosak oleh nafsu syahwatnya. Sehingga tiada lain harta
yang dimiliki oleh seseorang dari mereka (para sahabat) ketika saat kematiannya, selain dari kain
burdah yang pendek. Pemandangan ini membuat sahabat Rasulullah, ‘Abdul Rahman ibnu ‘Auf
ra. menangis dan menjauhi makanannya lalu berkata:
Mus’ab ibn Umair telah gugur, dan dia lebih baik dariku, dia dikafani dengan
kain burdahnya. Jika digunakan untuk menutup kepalanya, kedua kakinya
terlihat, dan jika digunakan untuk menutup kedua kakinya maka kepalanya
terlihat. Sedang dunia diluaskan bagi kami seperti keadaan sekarang ini, maka
kami merasa khuatir bila hal ini sebagai balasan dari kebaikan yang
disegerakan.
Muhammad Ahmad Ar-Rasyid,Ar-Raqaiq
Recent Comments